Miqat, Tapal Batas Bagi Jamaah Haji dan Umrah
Posted By Hery Vandoro On Syariah. At 2015-06-04 03:25:28 has 1893 viewers.
Miqat terbagi menjadi dua bagian yaitu miqat zamani dan miqat makani. Miqat zamani merupakan yang berhubungan dengan waktu, yaitu kapan haji dilakukan. Artinya, miqat zamaniadalah waktu beberapa bulan yang telah ditentukan di mana tidak boleh berihram untuk haji kecuali dalambulan-bulan tersebut. Di dalam Al Quran Surat Al Baqarah (2) ayat 189 dan 197 disebutkan, Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji,…”Dan pada ayat berikutnya (2:197)dikatakan, “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi.” Yang dimaksud dalam bulan-bulan haji adalah Syawal,Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. Menurut Madzhab Imam Maliki dan Imam Hanafi, bulan-bulan haji itu dimulai dari Syawal, Dzulqa’dah, dan 10 hari dari bulan Dzulhijjah yang pertama (siang hari raya Nahar/Idul Adha termasuk di dalamnya). Madzhab Imam Syafi’i memilih Syawal, Dzulqa’dah, dan 10 malam hari dari Dzulhijjah yang pertama. Sedangkan Madzhab Imam Hanbali mengatakan bulan-bulan haji itu Syawal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah. Miqat terbagi menjadi dua bagian yaitu miqat zamani dan miqat makani. Miqat zamani merupakan yang berhubungan dengan waktu, yaitu kapan haji dilakukan. Artinya, miqat zamaniadalah waktu beberapa bulan yang telah ditentukan di mana tidak boleh berihram untuk haji kecuali dalambulan-bulan tersebut. Di dalam Al Quran Surat Al Baqarah (2) ayat 189 dan 197 disebutkan, Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji,…”Dan pada ayat berikutnya (2:197)dikatakan, “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi.” Yang dimaksud dalam bulan-bulan haji adalah Syawal,Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. Menurut Madzhab Imam Maliki dan Imam Hanafi, bulan-bulan haji itu dimulai dari Syawal, Dzulqa’dah, dan 10 hari dari bulan Dzulhijjah yang pertama (siang hari raya Nahar/Idul Adha termasuk di dalamnya). Madzhab Imam Syafi’i memilih Syawal, Dzulqa’dah, dan 10 malam hari dari Dzulhijjah yang pertama. Sedangkan Madzhab Imam Hanbali mengatakan bulan-bulan haji itu Syawal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah.

Sorry, belum ada komentar untuk artikel ini.

Silahkan Login Dahulu agar anda dapat berkomentar disini..